//
Anda membaca...
Hukum dan Peristiwa

Begini Cara Polisi Ungkap Kasus Pembunuhan Arsitek Feri Firman Hadi

Acep Mulyadi, pelaku pembunuhan arsitek di Depok

Acep Mulyadi, pelaku pembunuhan arsitek di Depok. (Tribunnews.com)

Anekainfounik.net. Tim gabungan Direktorat Reskrimum Polda Metro Jaya dan Polresta Depok berhasil mengungkap kasus pembunuhan arsitek Feri Firman Hadi (54) sekaligus menangkap pelaku, Acep Mulyadi (20) tanpa perlawanan.

Pelaku ditangkap pada Sabu (6/1) kemarin di perkebunan Kampung Bojong, Desa Sukamulih, Kecamatan Sukajaya, Kabupaten Bogor. Sejumlah barang bukti disita dalam kasus itu.

Feri ditemukan tewas di rumahnya di Perumahan Poin Mas Blok A2 No 5 RT 01/11 Kelurahan Rangkapan Jaya, Pancoran Mas, Kota Depok pada 3 Januari 2018 lalu. Acep mengaku membunuh Feri pada 11 Desember 2017.

Saat ditemukan, korban sudah dalam kondisi membusuk. Feri diketahui tinggal seorang diri di rumah tersebut. Jenazahnya baru diketahui setelah seorang warga mendatangi rumahnya karena diminta kekuarga untuk mengeceknya.

Penemuan jasad arsitek Feri Firman Hadi (54) di rumahnya semula diduga bukan korban pembunuhan. Namun, polisi menemukan adanya kejanggalan yang mengarah bila korban dibunuh.

“Pada awalnya kami menduga, mungkin yang bersangkutan ini korban bunuh diri atau kejadian lain. Setelah olah TKP, kami menemukan beberapa kejanggalan,” kata Direktur Reskrimum Polda Metro Jaya Kombes Nico Afinta kepada wartawan di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Minggu (7/1/2018), dilansir anekainfounik.net dari detikcom.

Dari hasil olah TKP tersebut, polisi menemukan sejumlah petunjuk. Salah satunya petunjuk tamu ‘misterius’ di rumah korban yang dikuatkan dengan adanya 3 buah cangkir.

“Kami memperkirakan (sebelumnya) sudah ada tamu yang datang. Kami menemukan 3 cangkir, di mana 2 cangkir berisi teh dan 1 cangkir berisi kopi,” lanjut Nico.

Tampang Feri Firman Hadi

Tampang Feri Firman Hadi. (Detikcom)

Selain itu, polisi juga menemukan ada 2 jenis rokok di meja di ruang tengah. “Yang satu (rokok) Gudang Garam dan satu lagi (rokok) Dji Sam Soe,” imbuh Nico.

Polisi juga menemukan bercak darah yang menguatkan bahwa korban dibunuh. Bercak darah itu ditemukan di beberapa tempat seperti di sofa, di ruang tengah dan di meja di mana tiga cangkir itu berada.

Sebuah gunting dan tempat sampah yang tidak pada tempat yang semestinya juga menjadi kecurigaan polisi bahwa korban dibunuh. “Gunting itu digunakan pelaku untuk menggunting kopi sachet-an,” imbuhnya.

Petunjuk dan hasil olah TKP itu diperdalam oleh polisi. Tim gabungan dari Subdit Jatanras Ditreskrimum Polda Metro Jaya dan Polresta Depok kemudian menyelidiki siapa tamu misterius itu.

“Kemudian dari hasil olah TKP, keterangan saksi-saksi dan alat bukti yang ada, kami ketahui bahwa pelaku adalah AM (Acep Mulyadi), usia 20 tahun, yang baru kenal korban selama dua bulan,” ucap Nico.

Pelaku Sering Memijat Korban

Acep baru mengenal korban sekitar dua bulan karena sering diminta memijat korban. Polisi tak menyebut keduanya memiliki hubungan asmara antar sesama jenis.

“Jadi pelaku ini sering datang ke rumah korban untuk memijat korban, sudah sekitar 15 kali-an pelaku memijat korban,” ujar Plh Kasubdit Jatanras Ditreskrimum Polda Metro Jaya AKBP Stefanus kepada wartawan di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Minggu (7/1/2018).

Stefanus menjelaskan, korban dan pelaku saling mengenal setelah dikenalkan oleh kakak laki-laki pelaku yang bekerja di sebuah mebel. “Suatu waktu, pelaku diajak ke rumah korban karena korban mau bikin meja di rumahnya,” sambungnya.

Pada kesempatan itu, pelaku membantu memijat badan korban. Setelah itu, korban ketagihan dipijat pelaku, sehingga akhirnya korban sering memintanya datang ke rumahnya di Perumahan Poin Mas Blok A2 No 5 RT 01/011, Kelurahan Rangkapan Jaya, Kecamatan Pancoranmas, Kota Depok.

“Nah setiap sehabis memijat korban itu, pelaku suka dikasih uang Rp 150 ribu, Rp 200 ribu,” lanjutnya.

Pelaku membunuh korban karena kesal tidak diberikan pinjaman uang. Awalnya, Acep dan adik perempuannya, Hikmat, datang ke rumah Feri di Pancoranmas, Depok, pukul 20.00 WIB, Minggu (10/12/2017). Acep menyampaikan keinginannya untuk meminjam uang pada Feri.

“Mereka berdua datangi rumah korban dengan menggunakan motor. Di situ tersangka menyatakan bahwa dia ada kesulitan bayar sewa kontrakan, sudah tidak bayar selama 2 bulan, sehingga dengan harapan dikasih uang sama korban,” kata Kombes Nico Afinta.

Kemudian pukul 23.00 WIB, Hikmat meminta pulang. Acep pun mengantar Hikmat pulang ke Cinere, Depok. Namun, Acep kembali lagi ke rumah Feri pukul 02.00 WIB, Senin (11/12/2017).

“Kemudian tersangka memijat korban, itu di ruang tengah dan memijat korban–karena dingin, kemudian pindah ke tempat salat–dan dipijat di situ,” ucap Nico.

Setelah selesai memijat, Acep kembaki meminta uang kepada Feri. Namun, menurut Acep, Feri malah mengucapkan sesuatu yang membuatnya tersinggung.

“Korban menyampaikan ‘kamu ini datang kalau butuh duit aja’, kemudian korban juga–menurut tersangka–menyampaikan ‘ya sudah ibu kamu saja tinggal di sini’,” kata Nico.

Mendengar itu, Acep tersinggung. Ketika Feri sedang tertidur, Acep mengambil gunting dan menusukannya ke leher kanan Feri.

Feri melawan sehingga Acep memukul kepalanya dengan menggunakan patung kayu. Feri pun tak sadarkan diri hingga akhirnya tewas.

“Setelah mengetahui korban tewas, tersangka meninggalkan rumah korban dengan kondisi pintu utama tidak dikunci, sementara pintu pagar dikunci dan kuncinya dibuang ke pot,” ujar Nico.
.

Iklan

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

Iklan
%d blogger menyukai ini: