//
Anda membaca...
Hukum dan Peristiwa

Cerita Kapolsek Muara Gembong Tolak Uang Nazar Korban Curanmor

Kapolsek Muara Gembong AKP Sumantri memberikan motor kepada korban curanmor

Kapolsek Muara Gembong AKP Sumantri memberikan motor kepada korban curanmor. (Detikcom)

Anekainfounik.net. Kapolsek Muara Gembong AKP Somantri patut dipuji karena menolak pemberian uang nazar sebagai ucapan terima kasih dari korban pencurian motor (curanmor).

Polsek Muara Gembong baru-baru ini melakukan razia motor di Muara Gembong, Kabupaten Bekasi. Ada empat unit motor bodong yang tidak dilengkapi surat-surat yang berhasil disita Polsek Muara Gembong.

Polisi kemudian melakukan cek fisik terhadap motor sitaan tersebut. Setelah mendapatkan data-data registrasi dan identifikasi kendaraan, Polsek Muara Gembong kemudian menyerahkannya ke pemilik kendaraan.

Salah satunya adalah Yanto (60), warga Gunung Putri, Kabupaten Bogor. Yanto pada Minggu (14/1) kemarin mendatangi Polsek Muara Gembong untuk mengecek kendaraannya itu.

Yanto kehilangan motornya Honda CBR, pada Februari 2017 lalu. Motor itu dia beli sebagai hadiah untuk puteranya.

“Yang bersangkutan tidak menyangka sudah setahun motornya kembali. Dia pun beli motor dengan harapan menyenangkan anaknya, kemudian dibelikan motor, tahu-tahunya motornya hilang,” jelas Somantri di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Senin (15/1/2018), dilansir anekainfounik.net dari Detikcom.

Setelah mendapatkan informasi bahwa motornya ditemukan oleh Polsek Muara Gembong, Yanto pun meluncur ke sana. Yanto berangkat dari rumahnya di Gunung Putri pada Sabtu (13/1) pukul 08.00 WIB dan tiba di Polsek Muara Gembong sekitar pukul 14.00 WIB.

“Dia girang sekali, dari Gunung Putri ke Muara Gembong itu dari jam 8 pagi, sampai di Muata Gembong jam 2 sampai nyasar-nyasar karena di ujung sono,” tambahnya.

Karena jauhnya perjalanan sejauh 65 km, Yanto hampir pingsan ketika tiba di Mapolsek Muara Gembong. Kapolsek yang merasa iba pun mengajak Yanto untuk makan.

“Sampai Muara Gembong mau pingsan, dan saat itu kebetulan lagi ada acara, kami ajak makan bareng, Alhamdulillah makannya lahap, makan bareng bareng,” sambungnya.

Saking senangnya motornya kembali, Yanto pun bermaksud menyerahkan amplop berisi sejumlah uang kepada Somantri. Yanto sebelumnya memang bernazar akan memberikan uang sebagai tanda terima kasih apabila motornya ditemukan.

“Awalnya dia mau kasih itu (uang) sebagai ucapan terima kasih karena katanya dia nazar, tetapi saya tolak,” imbuhnya.

Bagi Somantri, sudah kewajiban polisi melayani masyarakat. Somantri ikhlas menolong masyarakat tanpa mendapat imbalan.

“Kami berikan pelayanan ke masyarakat, karena ini program Kapolri juga agar memberikan pelayanan prima. Selagi saya bisa bantu masyarakat, uang tidak seberapa (penting), dia sudah susah payah beli, terus perjalanan dari Bogor saja sudah capek. Dia sudah kembali pun (motornya) dia sudah girang. Dia masih percaya Polri tidak semuanya jelek,” papar Somantri.

Tidak hanya itu, Somantri juga meminta anggotanya untuk mengantar Yanto pulang. “Meski tidak sampai tujuan (di Bogor), yang terpenting jangan sampai nyasar lagi,” tutur Somantri.

Cerita Somantri yang menolak pemberian uang itu pun sampai di telinga Kapolda Metro Jaya Irjen Idham Azis. Tanpa disangka-sangka, Kapolda memanggilnya dan mengapresiasinya.

“Iya tadi ketemu sama beliau (Kapolda). Yang penting kami melayani masyarakat dengan tulus,” ucap Somantri.

Melihat pelayanan tulus Kapolsek itu, Yanto pun terenyuh. “Saya terharu, katanya banyak polisi miring, ternyata saya menemukan polisi luar biasa,” ucapnya.

Karena uang nazar itu ditolak Somantri, Yanto tidak berhenti di situ saja. Ia teringat punya teman bernama Teddy yang dekat dengan Kapolri Jenderal Tito Karnavian. Kepada Tedy, Yanto menitipkan ‘surat’ yang menceritakan pengalamannya bertemu dengan Somantri yang begitu tulus.

“Sampai saya cari teman saya yang berteman pak Tito waktu SMA di Palembang, namanya Pak Teddy itu. Dulu pernah satu kantor (dengan Teddy), saya tahu banget Teddy berteman dengan Kapolri karena waktu sekantor sama saya suka cerita teman saya itu,” paparnya.

Yanto kemudian menuliskan kisahnya itu kepada Teddy. Maksud Yanto, ia ingin agar pengalamannya itu disampaikan Teddy kepada Kapolri agar diketahui masih ada polisi jujur seperti Somantri.

‘Surat’ dari Yanto itu pun sampai ke Kapolri. Kapolri kemudian meneruskannya ke Kapolda Metro Jaya Irjen Idham Azis untuk mengecek informasi tersebut.

Idham kemudian memanggil Somantri ke Polda Metro Jaya pada Senin (15/1) siang kemarin. Mantan Kadensus 88 Polri itu ingin mendengar langsung cerita tersebut dari Somantri. Setelah mendengar penjelasan Somantri, Idham pun menyampaikan apresiasinya.

“Saya sangat senang sekali kalau ini diketahui pimpinannya. Alhmadulillah kalau ternyata beliau (Kapolsek) diapresiasi sama pimpinannya, itu pun saya sudah senang, karena nazar pun tidak dia terima. Setidaknya perbuatan baiknya ini diketahui pimpinannya, bahwa ada polisi yang jujur, tidak semuanya negatif,” tuturnya.

Iklan

Diskusi

Satu respons untuk “Cerita Kapolsek Muara Gembong Tolak Uang Nazar Korban Curanmor

  1. salut boss.. Semoga citra kepolisian di Indonesia,semakin baik kedepan nya.

    Posted by rdtngrh | Januari 16, 2018, 3:14 am

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

Agen Bola
Iklan
%d blogger menyukai ini: