//
Anda membaca...
Hukum dan Peristiwa

Soal Penataan Becak, Kebijakan Risma Lebih Manusiawi daripada Anies

Anies Baswedan dan Tri Rismaharini

Anies Baswedan dan Tri Rismaharini. (Istimewa)

Anekainfounik.net. Wacana Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan untuk menghidupkan kembali becak menuai kritikan tajam dari berbagai pihak. Mantan Mendikbud tersebut berdalih sebagai cara penataan terbaik untuk jumlah becak yang diklaimnya berjumlah 1000 dan masih beroperasi liar di Ibu Kota. Kata Anies, becak nantinya akan dioperasikan sebagai angkutan kampung bukan di jalan-jalan protokol.

Salah satu alasan berbagai pihak mengkritik Anies karena profesi tukang becak dinilai tidak manusiawi karena biasanya berusia tua. Lagi pula, menggunakan tenaga manusia secara langsung sebagai pengganti mesin atau hewan untuk menjalankan sebuah alat transportasi, merupakan bentuk eksploitasi tenaga manusia.

“Pasti sudah sepuh-sepuh, sudah tidak manusiawi (kalau disuruh mengendarai becak). Susah menemukan orang usia 25-30 tahun yang mau jadi tukang becak, mereka pasti lebih memilih ngojek, itu kalau bicara soal produktivitas,” kata pengamat tata kota dari Universitas Trisakti, Nirwono Joga, Senin (15/1), dilansir anekainfounik.net dari Kompas.com.

Hal yang sama juga dinyatakan mantan Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso meminta Anies membatalkan rencana tersebut. Pertama, kata dia, mengayuh becak dianggap sebagai pekerjaan yang tidak manusiawi. Kedua, transportasi becak tidak sesuai dengan angkutan metropolitan apalagi ibu kota negara.

Karena alasan tak manusiawi, Anies diminta menawarkan tukang becak untuk alih profesi dengan pekerjaan lebih layak.

“Kalau mau bantu masyarakat miskin masak tenaga mereka diperkuda, yang benar aja. Membantu masyarakat miskin itu sediakan lapangan kerja padat karya buat mereka,” kata pengamat politik Arbi Sanit, Rabu (17/1/2018), dilansir dari netralnews.com.

“Lapangan kerja yang bukan eksploitasi manusia langsung. Harusnya diberi pekerjaan yang menggunakan kemampuan kerjanya, keahliannya, bukan tenaga langsung digunakan seperti kuda atau mesin,” tandas Arbi.

Bahkan Arbi juga mempertanyakan program program One Kecamatan One Center for Entrepreneurship (Ok Oce) milik Anies dan Wakilnya Sandiaga Uno, yang digadang-gadangkan memberikan pelatihan untuk menciptakan lapangan pekerjaan.

“Di mana Ok Oce yang katanya latih keahlian, ketrampilan, ciptakanlah lapangan pekerjaan? Ini (becak) bukan ciptakan lapangan pekerjaan, tapi mengembalikan keadaan yang sudah modern ke zaman primitif, di mana bukan keahlian yang dijual, tapi tenaga manusia dibuat ganti mesin,” ungkapnya.

Jadi tak heran, jika ada pihak yang menyebut langkah Anies ini tak masuk akal dan hanyalah upaya mencari popularitas bukan solusi yang baik untuk warganya.

“Membolehkan becak kembali beroperasi itu Pencitraan semua. Pak Anies kan masih banyak cara pencitraan yang lebih bagus dan elegan,” kata Ketua DPW PKB DKI Jakarta, Hasbiallah Ilyas saat dihubungi, Rabu (17/1), dilansir dari RMOL.

Anies seharusnya tak malu-malu untuk mengikuti langkah Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini yang berupaya mengurangi jumlah becak di ibu kota Jawa Timur tersebut.

Pemerintah Kota Surabaya menawarkan pengayuh becak untuk beralih profesi yang layak di Surabaya. Sebab, saat ini pengayuh becak hanya memperoleh pendapatan Rp 600.000 per bulan.

“Mereka ingin becak benar mereka bisa survive. Sekarang becak banyak, mereka tawarin karena pendapatan mereka setiap bulan 600 ribu,” kata Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini di Kampus Universitas Indonesia, Depok, Kamis (5/9/2017), dilansir dari Detikcom.

Risma mengatakan, pekerjaan yang layak bagi pengayuh becak masih tersedia di Surabaya. Pekerjaan yang ditawarkan mulai, penyapu sekolah hingga satpam. Sehingga mereka bisa memperoleh pendapatan yang sesuai upah minimum kota (UMK) Rp 3,2 juta.

“Saya alihkan tukang sapu, satpam sekolah jadi mereka bisa mendapatkan umk 3,2 juta sehingga saya bisa menaikan income mereka,” ujar Risma.

Iklan

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

Iklan
%d blogger menyukai ini: