//
Anda membaca...
Hukum dan Peristiwa

Viral Video Biksu Dilarang Ibadah di Tangsel, Polisi: Hanya Salah Paham

Biksu disebut dilarang kebaktian di Tangsel

Biksu disebut dilarang kebaktian di Tangsel. (Facebook/vadisa.tampubolon)

Anekainfounik.net. Belakangan ini beredar video seorang biksu dan umatnya dilarang beribadah oleh sekelompok massa di Desa Babat, Kecamatan Legok, Tangerang Selatan. Polisi menyatakan perkara tersebut hanyalah salah paham dan telah diselesaikan secara kekeluargaan.

“Hanya salah paham saja, sudah diselesaikan secara musyawarah dan sudah selesai,” kata Kapolres Tangerang Selatan AKBP Fadli Widiyanto dalam keterangannya kepada wartawan, Sabtu (10/2/2018), dilansir anekainfounik.net dari Detikcom.

Peristiwa itu viral setelah diunggah akun Facebook @Vadisa Tampubolon pada Sabtu (10/2/2018) dalam TEMAN AHOK se INDONESIA (Group relawan).

Dalam unggahannya diberi keterangan:

“FPI MELAKUKAN DEMO TERHADAP SALAH SATU UMAT BERAGAMA DI TANGERANG.

Di paksa meninggalkan tempat ibadah
Kejadian di daerah Legok Tangerang
Di bawah tekanan Dan paksaan dari pendemo harus menandatangani Surat pernyataan.
Tapi dipernyataannya di jelaskan tdk dibawah tekanan.
Siapa yg percaya ???
Sdh jelas2 dibawah tekanan.
Dimana Negara menyikapi kejadian seperti ini?
Apa Negri ini milik FPI…?????
Aparat hrs bertindak seblm manusia2 radikal ini menguasai daerah2 yg warganya notabene bukan muslim. Atau warga yg melakukan Ibadah dibubarkan begitu saja.
Mana PANCASILA itu…?????

VIRALKAN…..SPY SAMPAI KE APARAT NEGARA.”

Dalam tayangan video itu tampak seorang biksu membacakan surat pernyataan.

“Dalam kurun waktu satu minggu dari 4 Feb 2018 sampai Sabtu 10 Feb, dan saya pun berjanji untuk tidak melakukan ritual atau ibadah dan melakukan kegiatan yang bersifat melibatkan warga umat buddha yang menimbulkan keresahan warga Desa Babat. Apabila di kemudian hari saya melanggar surat pernyataan ini, maka saya bersedia diproses sesuai hukum yang berlaku,” bunyi suara biksu yang membacakan surat pernyataan dalam video itu.

Peristiwa terjadi pada Rabu (7/2) lalu, berawal dari adanya penolakan warga Desa Babat, Kecamatan Legok. Warga menolak rencana kegiatan kebaktian umat Budha dengan melakukan tebar ikan di lokasi danau bekas galian pasir di Kampung Kebon Baru, Desa Babat.

Masyarakat juga sempat tidak menerima kehadiran Mulyanto Nurhalim selaku biksu di kampung tersebut. Warga resah karena menganggap biksu tersebut akan mengajak orang lain untuk masuk agama Budha.

“Ada penolakan dari masyarakat atas segala macam kegiatan keagamaan serta perkumpulan umat Budha di kediaman Mulyanto Nurhalim alias Biksu/Bhante karena rumah tersebut dihuni untuk tempat tinggal bukan dijadikan tempat ibadah,” terang Fadli.

Terkait hal itu, pihak kepolisian mengumpulkan masyarakat dan tokoh setempat. Sejumlah tokoh agama diajak untuk bermusyawarah agar kejadian tersebut tidak menjadi isu yang berkepanjangan dan semakin meluas.

Rapat dilaksanakan di ruang kerja Camat Legok di Jl Alun-alun Desa Caringin, Kecamatan Legok, Kabupaten Tangerang pada Rabu (7/2) pukul 14.10 WIB. Rapat dihadiri 16 orang, di antaranya Kapolsek Legoj AKP Murodih, Camat Legok H Nurhalim, Ketua MUI Legoj KH Odji Madroju, Kades Babat H Sukron Ma’mun, Romo Kartika toga umat Budha Jakarta.

Warga sempat mencurigai biksu tersebut melakukan ibadah dengan mengundang jemaat dari luar. Namun, warga ternyata salah paham, karena yang datang ke situ ternyata cuma memberi makan biksu saja.

“Di kediaman Biksu Mulyanto Nurhalim sering dikunjungi umat Budha dari luar kecamatan Legok terutama pada hari Sabtu dan Minggu untuk memberikan makan kepada Biksu dan minta didoakan, bukan melaksanakan kegiatan ibadah. Hal ini dapat dimaklumi karena Biksu tidak boleh pegang uang dan beli makanan sendiri,” tuturnya.

Warga juga semula sempat memberi tenggang waktu kepada biksu untuk meninghalkan kampung tersebut. “Biksu tersebut adalah warga asli Desa Babat dan sudah memiliki KTP dan memiliki hak tinggal di Desa Babat,” cetusnya

Setelah musyawarah, polisi dan seluruh elemen masyarakat setempat memastikan bahwa rumah Biksu Mulyanto bukan rumah ibadah seperti kecurigaan warga. Sementara dalam musyawaraj itu disepakati agar Mukyanto tidak menyimpan ornamen yang menimbulkan kecurigaan warga.

“Ornamen yang menyerupai kegiatan ibadah umat Budha agar tidak mencolok yang dapat menjadi bahan kecurigaan warga (di singkirkan ke dalam rumah agar tidak terlihat seperti patung dan lain-lain,” tuturnya.

Fadli memastikan persoalan tersebut telah selesai. Warga pun meminta maaf atas kesalah pahaman terhadap Mulyanto ersebut.

“Semua menyatakan permasalahan selesai dan saling menyadari kesalahan yang ada kemudian saling memaafkan,” tandasnya.

Iklan

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

Iklan
%d blogger menyukai ini: