//
Anda membaca...
Sejarah dan Politik

SBY Sebut PD Akan Usung Capres Sendiri, Poros Ketiga Akan Terbentuk?

SBY membuka Rapimnas Partai Demokrat di Sentul

SBY membuka Rapimnas Partai Demokrat di Sentul. (Istimewa)

Anekainfounik.net. Wacana terbentuknya poros ketiga sebagai capres alternatif selain Jokowi dan Prabowo Subianto dalam Pemilu 2019 sangat mungkin terjadi. Saat membuka Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) Partai Demokrat (PD), SBY menyatakan partainya akan mengusung pasangan calon presiden dan wakil presiden pada pemilihan presiden 2019.

“Insya Allah, dalam pilpres 2019, Partai Demokrat akan mengusung pasangan capres serta cawapres yang paling tepat dan paling baik,” kata SBY di Sentul Internasional Convention Center (SICC), Bogor, Sabtu, 10 Maret 2018, dilansir anekainfounik.net dari Tempo.co.

Demokrat, ucap SBY, masih menggodok nama calon yang akan diusung partai. Pemilihan pasangan calon itu rencananya dilakukan pada beberapa bulan mendatang.

“Dalam beberapa bulan mendatang, putra atau putri terbaik bangsa yang Demokrat nilai cakap dan mampu memimpin Indonesia akan kami umumkan sebagai pasangan calon yang akan diusung Partai Demokrat,” ujar SBY.

Pada pemilu lima tahun lalu, Partai Demokrat tidak mengusung calon pasangan. SBY menuturkan keputusan partai untuk mengusung pasangan calon presiden dan wakil presiden dipicu kekalahannya dalam Pemilu 2009. Demokrat tidak memiliki dan mengusung pasangan dalam pemilu menjadi salah satu sebab kekalahan Partai Demokrat saat itu.

Pada Pemilu 2009, elektabilitas partai menurun drastis. Kepercayaan masyarakat juga menurun setelah kasus korupsi yang menjerat sejumlah kader Partai Demokrat terungkap.

Berdasarkan UU Pemilu, ambang batas presiden ditetapkan 20 persen dari total suara. Artinya, sebuah partai atau gabungan partai harus menguasai 20 persen dari total kursi DPR untuk bisa mengusung calon presiden.

Jika melihat peta politik, saat ini masih tersisa lima partai yang belum mendeklarasikan capres, yakni Partai Amanat Nasional (PAN), Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Partai Gerindra, dan PD.

Jika diasumsikan Gerindra dan PKS yang dimungkinkan mengusung Prabowo, maka PAN, PKB, dan Demokrat bisa mengusung capres baru, seperti yang mereka lakukan saat mengusung cagub di Pilkada DKI Jakarta pada tahun lalu. Jumlah kursi ketiganya yang sebesar 27,85 persen, cukup untuk mengusung capres.

Poros baru itu bisa mengusung sejumlah nama yang potensial dalam berbagai lembaga survei sebagai capres. Sejumlah nama tersebut ialah mantan Panglima TNI Gatot Nurmantyo, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, Komandan Satuan Tugas Bersama (Kogasma) Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar, dan Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan.

Walaupun demikian, Ketua Umum PAN, Zulkifi Hasan ragu akan peluang poros ketiga memenangkan Pilpres 2019.

“Secara matematis, poros ketiga mungkin, tapi kan saya katakan tidak mudah. Pak Jokowi kan surveinya tinggi di segala lini. Namanya incumbent, punya kekuatan bisa saja gitu. Secara matematis bisa, tapi yang mungkin bisa dua (poros),” ungkap Zulkifli, Jumat (9/3).

Apalagi, dalam rapimnas tersebut, SBY memberikan ‘kode’ untuk bergabung dengan koalisi partai yang mendukung Jokowi.

“Pak Presiden, jika Allah menakdirkan, senang Demokrat berjuang bersama bapak. Tentu bapak sangat memahami sebagaimana pengalaman saya Pilpres 2014 dan 2009 lalu, perjuangan bersama apapun namanya koliasi atau aliansi berhasil selama kerangka kebersamaan tetap dijaga,” kata SBY dalam rapimnas yang juga dihadiri Presiden Jokowi tersebut.

Terbentuk atau tidaknya poros ketiga kini sangat bergantung pada SBY. Jika putra SBY (AHY) ditolak koalisi Jokowi menjadi cawapres, SBY diyakini akan membentuk poros tersebut bersama PKB dan PAN.

Namun, Direktur Eksekutif Indo Barometer Muhammad Qodari meragukan Muhaimin Iskandar dari PKB dan Zulkifli Hasan dari PAN bersedia menerima kesepakatan bahwa capres yang diusung adalah AHY.

“Katakanlah Muhaimin mau, tapi Zulkifli Hasan mau enggak dengan AHY-Muhaimin? Atau misalnya AHY-Zulkifli Hasan, mau enggak Muhaimin mendukung? Agak susah,” ujar Qodari pada diskusi media bertema Peta Politik Indonesia: Kiprah ICMI dalam Tahun Politik 2018, di Jakarta, Rabu (7/3/2018), dilansir dari Kompas.com.

Hal itulah yang membuat pencalonan Agus sebagai capres pada poros ketiga agak rumit. Qodari juga mengasumsikan, apabila dimasukkan variabel nama Mantan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo sebagai capres, maka Demokrat akan tetap mengutamakan AHY sebagai pendamping.

“Enggak mungkin dilepas sama SBY, enggak mungkin Pak SBY mendukung Gatot jadi capres terus wakilnya Muhaimin atau Zulkifli Hasan,” kata Qodari.

Jika Gatot-AHY diasumsikan menjadi pasangan dari koalisi poros ketiga, Qodari menilai hal itu akan menimbulkan potensi penolakan dari PKB dan PAN.

“Berarti kalau Gatot-Agus, itu kan militer militer. Ya mau enggak itu Gatot-Agus kemudian didukung Muhamin dan Zulkifli Hasan?” ujarnya.

Resiko lainnya, kata dia, jika hasil survei elektabilitas komposisi calon poros ketiga cenderung kecil. Hal itu akan membuat PKB dan PAN bisa berpaling ke koalisi pendukung Jokowi atau pendukung Prabowo.

Qodari menyimpulkan koalisi poros ketiga akan sulit terwujud pada 2019, apabila setiap partai memiliki ambisi yang kuat dan kalkulasi politik yang rumit.

Iklan

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

Iklan
%d blogger menyukai ini: