//
Anda membaca...
Hukum dan Peristiwa

Kena OTT KPK Rp 30 Juta, Ini Rekam Jejak Hakim Wahyu Widya Nurfitri

Hakim Wahyu Widya Nurfitri yang ditangkap KPK

Hakim Wahyu Widya Nurfitri yang ditangkap KPK. (Facebook)

Anekainfounik.net. Hakim Wahyu Widya Nurfitri terjaring OTT KPK beserta dugaan menerima suap Rp 30 juta. Ini merupakan jumlah bukti terkecil buat kelas hakim. Siapa sebenarnya Wahyu Widya?

Berdasarkan data yang dikutip dari website Mahkamah Agung (MA), Rabu (14/3/2018) seperti dilansir anekainfounik.net dari detikcom, Wahyu Widya menyelesaikan SD di SDN 1 Ungaran pada 1980. Tiga tahun setelahnya, ia menyelesaikan SMP di SMP Kristen Berbatuan serta lulus dari SMA 1 Ungaran tiga tahun setelahnya.

Gelar Sarjana Hukum diraih setelah menempuh pendidikan di Falkutas Hukum Undip selama lima tahun serta lulus pada 1991. Gelar Master Hukum, baru ia selesaikan setelah menjadi hakim pada 2004 dari STIH IBLAM.

Bagaimana kariernya? Ia memulai karier sebagai calon hakim di PN Depok pada 1991. Di PN Depok itulah, Wahyu Widya berkarier selama 23 tahun. beserta rentang waktu yang cukup lama, Wahyu Widya meraih pangkat IX/a.

Setelah itu, ia dipromosikan menjadi Wakil Ketua PN Rangkasbitung pada 2013. Setahun setelahnya, ia menjadi Ketua PN Gunung Sugih, Lampung. Dua tahun setelahnya, ia menjadi hakim PN Tangerang.

“Saya kira senior ya, karena golongan sudah 4C. Setau saya dulu pernah menjabat di PN Gunung Sugih,” kata Humas PN Tangerang M Irfan Siregar.

Namun apa lacur, karier 27 tahun Wahyu Widya hancur usai ia menerima uang Rp 30 juta. KPK yang mengendusnya langsung mencokok beserta sejumlah bukti yang sangat kuat.

“Namun uang itu dinilai kurang serta akhirnya disepakati nilainya menjadi Rp 30 juta, kekurangan Rp 22,5 juta akan diberikan kemudian,” ujar Wakil Ketua KPK Basaria Pandjaitan.

Harta Kekayaan

Wahyu tercatat memiliki total aset harta kekayaan senilai Rp 2,7 miliar. Dilansir dari detikcom, dari aplikasi Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN), Selasa (13/3/2018), Wahyu melaporkan hartanya sebanyak 2 kali, yaitu pada 31 Juli 2001 dan 19 Desember 2016.

Pada laporan pertama, harta milik Wahyu berjumlah Rp 171.200.000 dan USD 3.000. Kemudian, pada pelaporan berikutnya di 2016, harta Wahyu mencapai Rp 2.728.175.900 dan USD 3.000.

Pertambahan harta Wahyu terjadi pada tanah dan bangunan. Berdasarkan LHKPN tersebut pada 2001, Wahyu tidak memiliki tanah dan bangunan, namun pada 2016, Wahyu punya 8 bidang tanah dan bangunan yang tersebar di Batam dan Semarang.

Total nilai aset tanah dan bangunan yang dimiliki Wahyu ialah Rp 1.339.456.000. Kemudian, ia juga melaporkan 4 mobil yang dimilikinya senilai Rp 382 juta.

Berikutnya, ada logam mulia perolehan sendiri dari tahun 2000 sampai 2016 senilai Rp 259.700.000, batu mulia hasil sendiri dan warisan senilai Rp 12 juta. Kemudian benda bergerak lainnya senilai Rp 38.200.000.

Wahyu juga tercatat punya giro setara kas sejumlah Rp 723.819.900 dan USD 3000. Jumlah ini bertambah dibanding tahun 2001 yang senilai Rp 26 juta dan USD 3.000. Selain itu, Wahyu tidak memiliki piutang. Namun, ia tercatat punya utang senilai Rp 27 juta.

Pernah Pidanakan Bawahan yang Nuduh Selingkuh

Berdasarkan putusan yang dikutip di website Mahkamah Agung, Rabu (14/3/2018), Wahyu pernah ribut dengan anak buahnya, Jamilah Treyananingsih. Kala itu Wahyu merupakan Ketua PN Gunung Sugih, Lampung.

Waktu itu Jamilah, yang juga Wakil Kasub Kepegawaian, tidak terima karena nilai DP3 miliknya turun. Lalu ia mendatangi Wakil Panitera Rusdiana di ruangannya pada Januari 2016. Di ruang tersebut, ada pula staf PN Gunung Sugih, Epita, Rika, dan Duhita serta tamu pengadilan.

“Kenapa nilai PD3 saya turun? Awak kamu menurunkan nilai DP3 saya,” kata Jamilah kepada Rusdiana.

Setelah itu, Jamilah merobek nilai DP3 tersebut dan mengeluarkan kata-kata kasar.

“Bilangin ya, omongin sama dua orang kawan kamu di atas yang tukang selingkuh itu,” teriak Jamilah.

Salah satu yang dimaksud adalah Wahyu Widya. Merasa nama baiknya tercemar, Wahyu Widya lalu melaporkan Jamilah ke polisi. Setelah melalui proses yang panjang, Jamilah akhirnya diadili oleh kolega Wahyu Widya.

“Menjatuhkan hukuman selama 6 bulan penjara. Pidana tersebut tidak akan dijalani kecuali apabila di kemudian hari ada perintah lain dalam putusan hakim yang berkekuatan hukum tetap karena belum lewat masa percobaan selama 1 tahun melakukan perbuatan yang dapat dipidana,” putus majelis PN Gunung Sugih.

Kolega yang mengadili Jamilah adalah Raden Zaenal Arief, Dwi Aviandari, dan Galang Syafta Arsitama. Ketiganya menyatakan Jamilah terbukti telah menista Wahyu Widya dan melanggar Pasal 310 ayat 1 KUHP.

Iklan

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

Iklan
%d blogger menyukai ini: